Author: admin_perlo1

  • Ujian Tugas Akhir Pemeranan: Neeta Chalidasari dalam Naskah Dahaga (Thirst) Karya Eugene O’Neill

    Ujian Tugas Akhir Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Padang Panjang kembali menghadirkan pertunjukan dramatik yang kuat secara artistik dan konseptual. Pada Jumat, 16 Januari 2026, di Teater Arena Mursal Esten, Neeta Chalidasari menampilkan karya pemeranan melalui naskah Dahaga (Thirst) karya dramawan dunia Eugene O’Neill, yang disutradarai oleh Ravi Razak.Naskah Dahaga menghadirkan latar kejadian yang ekstrem, yakni di atas sebuah sekoci kecil di tengah lautan lepas. Cerita berfokus pada kondisi manusia yang terjebak dalam situasi bertahan hidup, menghadapi kehausan, kelelahan, ketakutan, serta konflik batin yang perlahan mengikis kemanusiaan mereka. Lautan bukan hanya menjadi latar fisik, tetapi juga simbol ruang psikologis yang menekan, sunyi, dan tak berujung.Dalam pemeranannya, Neeta Chalidasari menghadirkan eksplorasi emosi yang intens dan terukur. Karakter yang dimainkan menuntut ketahanan tubuh dan kepekaan batin, karena hampir seluruh konflik dibangun melalui dialog terbatas, gestur, serta ekspresi psikologis di ruang sempit sekoci. Keausan mental dan fisik yang dialami tokoh diperlihatkan secara bertahap, menghadirkan ketegangan yang terus terjaga sepanjang pertunjukan.Sutradara Ravi Razak menata pertunjukan dengan pendekatan minimalis namun efektif. Tata artistik yang sederhana memperkuat fokus pada aktor dan relasi antartokoh, sementara ruang arena Teater Mursal Esten dimanfaatkan untuk menciptakan kedekatan emosional antara pemain dan penonton. Atmosfer lautan yang keras dan tak bersahabat dibangun melalui permainan tubuh, tempo adegan, serta pengolahan ruang yang presisi.Pertunjukan ini bukan sekadar pemenuhan syarat akademik, tetapi juga menjadi proses pembuktian kemampuan artistik Neeta Chalidasari sebagai aktor teater. Melalui Dahaga, penonton diajak menyelami pertanyaan mendasar tentang daya tahan manusia, naluri hidup, dan batas kemanusiaan ketika dihadapkan pada kondisi paling genting.Ujian Tugas Akhir ini menjadi penutup proses pendidikan yang penting, sekaligus penanda kesiapan Neeta Chalidasari untuk melangkah ke dunia praktik teater yang lebih luas, dengan bekal teknik pemeranan, kedalaman karakter, dan kesadaran artistik yang matang.

  • pertunjukan Dramatik Riding Naskah Perempuan di Persimpangan karya Syafriwan. Ujian Tugas Akhir Dramaturgi

    Pertunjukan dramatik reading naskah Perempuan di Persimpangan karya Syafriwan diselenggarakan dalam rangka memenuhi ujian Tugas Akhir minat dramaturgi Jurusan Seni Teater, Institut Seni Indonesia Padang Panjang, pada tanggal 17 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pertanggungjawaban akademik mahasiswa sekaligus ruang artistik untuk menguji gagasan dramaturgi melalui pembacaan naskah secara dramatik di hadapan publik.Naskah Perempuan di Persimpangan ditulis oleh Syafriwan sebagai respon atas kegelisahan sosial yang berangkat dari realitas kehidupan perempuan, khususnya perempuan Minangkabau, yang kerap berada pada posisi rentan di tengah persilangan nilai-nilai budaya, adat, dan agama. Dengan kerendahan hati, penulis memandang kebesaran hak seorang perempuan sebagai manusia yang memiliki kebebasan berpikir, memilih, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Namun pada saat yang sama, naskah ini tidak menafikan kuatnya sistem adat dan nilai keagamaan yang telah mengakar dan menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau.Tokoh utama dalam naskah ini adalah Diana, seorang perempuan Minang yang menempuh pendidikan di Amerika. Selama masa studinya, Diana mendapatkan pemahaman yang luas mengenai konsep kesetaraan, kebebasan individu, serta hak setiap orang untuk menentukan pilihan hidupnya. Nilai-nilai tersebut membentuk kesadaran baru dalam dirinya, sekaligus memunculkan kegelisahan batin ketika ia dihadapkan kembali pada realitas sosial dan budaya di kampung halamannya. Pertentangan antara pemikiran modern yang ia peroleh dengan norma adat dan agama yang berlaku menjadi sumber konflik utama dalam naskah ini.Keresahan personal dan sosial tersebut kemudian dituliskan oleh Wawan ke dalam bentuk naskah teater, menjadikannya medium ekspresi untuk menyuarakan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai posisi perempuan dalam masyarakat tradisional. Perempuan di Persimpangan tidak sekadar menghadirkan konflik antar tokoh, melainkan juga konflik nilai yang hidup di dalam diri tokoh utama. Naskah ini menempatkan perempuan sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan berjuang, bukan sekadar objek dari sistem sosial yang mengekangnya.Melalui pertunjukan dramatik reading ini, penonton diajak untuk menyelami lapisan-lapisan konflik batin yang dialami Diana, serta memahami kompleksitas persoalan yang dihadapi perempuan ketika kebebasan individu berbenturan dengan tuntutan adat dan keyakinan. Pembacaan dramatik ini menjadi ruang dialog, tidak hanya antara para aktor dan teks, tetapi juga antara karya dan penonton, tentang bagaimana masyarakat memaknai perubahan, mempertahankan tradisi, dan menegosiasikan nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus zaman yang terus bergerak.

  • pertunjukan Dramatik Riding Naskah Perempuan di Persimpangan karya Syafriwan. Ujian Tugas Akhir Dramaturgi

    Pertunjukan dramatik reading naskah Perempuan di Persimpangan karya Syafriwan diselenggarakan dalam rangka memenuhi ujian Tugas Akhir minat dramaturgi Jurusan Seni Teater, Institut Seni Indonesia Padang Panjang, pada tanggal 17 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pertanggungjawaban akademik mahasiswa sekaligus ruang artistik untuk menguji gagasan dramaturgis melalui pembacaan naskah secara dramatik di hadapan publik.
    Naskah Perempuan di Persimpangan ditulis oleh Syafriwan sebagai respon atas kegelisahan sosial yang berangkat dari realitas kehidupan perempuan, khususnya perempuan Minangkabau, yang kerap berada pada posisi rentan di tengah persilangan nilai-nilai budaya, adat, dan agama. Dengan kerendahan hati, penulis memandang kebesaran hak seorang perempuan sebagai manusia yang memiliki kebebasan berpikir, memilih, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Namun pada saat yang sama, naskah ini tidak menafikan kuatnya sistem adat dan nilai keagamaan yang telah mengakar dan menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minangkabau.
    Tokoh utama dalam naskah ini adalah Diana, seorang perempuan Minang yang menempuh pendidikan di Amerika. Selama masa studinya, Diana mendapatkan pemahaman yang luas mengenai konsep kesetaraan, kebebasan individu, serta hak setiap orang untuk menentukan pilihan hidupnya. Nilai-nilai tersebut membentuk kesadaran baru dalam dirinya, sekaligus memunculkan kegelisahan batin ketika ia dihadapkan kembali pada realitas sosial dan budaya di kampung halamannya. Pertentangan antara pemikiran modern yang ia peroleh dengan norma adat dan agama yang berlaku menjadi sumber konflik utama dalam naskah ini.
    Keresahan personal dan sosial tersebut kemudian dituliskan oleh Wawan ke dalam bentuk naskah teater, menjadikannya medium ekspresi untuk menyuarakan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai posisi perempuan dalam masyarakat tradisional. Perempuan di Persimpangan tidak sekadar menghadirkan konflik antar tokoh, melainkan juga konflik nilai yang hidup di dalam diri tokoh utama. Naskah ini menempatkan perempuan sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan berjuang, bukan sekadar objek dari sistem sosial yang mengekangnya.
    Melalui pertunjukan dramatik reading ini, penonton diajak untuk menyelami lapisan-lapisan konflik batin yang dialami Diana, serta memahami kompleksitas persoalan yang dihadapi perempuan ketika kebebasan individu berbenturan dengan tuntutan adat dan keyakinan. Pembacaan dramatik ini menjadi ruang dialog, tidak hanya antara para aktor dan teks, tetapi juga antara karya dan penonton, tentang bagaimana masyarakat memaknai perubahan, mempertahankan tradisi, dan menegosiasikan nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus zaman yang terus bergerak.

  • Ujian Tugas Akhir Tata Artistik, Jurusan Teater

    Pameran Skenografi “Anggun Nan Tongga” Angkat Konsep Multiple Set Teater Epik di ISI Padang Panjang
    Padang Panjang — Pameran skenografi naskah lakon Anggun Nan Tongga karya Wisran Hadi diselenggarakan pada 9 Januari 2026 di Teater Mursal Esten, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Kegiatan ini merupakan bagian dari Tugas Akhir Penataan Artistik mahasiswa Jurusan Seni Teater ISI Padang Panjang.
    Skenografi pameran ini dirancang oleh Riki Pratama, yang akrab disapa Perlo, dengan menghadirkan konsep multiple set teater epik. Konsep tersebut menampilkan beberapa set panggung dalam satu ruang pertunjukan yang saling terhubung, memungkinkan perpindahan adegan berlangsung secara berlapis dan berkesinambungan tanpa memutus alur dramatik lakon.
    Pemilihan konsep multiple set teater epik dinilai relevan dengan karakter naskah Anggun Nan Tongga yang kaya akan konflik, simbol, serta muatan sosial dan budaya Minangkabau. Melalui pendekatan ini, skenografi tidak hanya berfungsi sebagai latar visual, tetapi juga menjadi bagian dari struktur dramaturgi yang aktif membangun makna dan atmosfer pertunjukan.
    Pameran ini menampilkan rancangan artistik berupa set panggung, komposisi ruang, serta eksplorasi visual yang merepresentasikan pembacaan kreatif terhadap naskah karya Wisran Hadi. Pengunjung diajak untuk melihat bagaimana proses penataan artistik bekerja sejak tahap konseptual hingga visualisasi ruang pertunjukan.
    Melalui pameran skenografi Anggun Nan Tongga ini, diharapkan tercipta ruang apresiasi dan diskusi mengenai peran penataan artistik dalam seni teater, sekaligus menjadi kontribusi akademik dan artistik bagi perkembangan teater di lingkungan ISI Padang Panjang dan masyarakat luas.

  • persiapan khatam Al-Qur’an

    Persiapan Arak-arakan Khatam Al-Qur’an Musholla Nurul Iman Musam MatangMusam — Dalam rangka menyambut pelaksanaan khatam Al-Qur’an, Musholla Nurul Iman Musam tengah melakukan berbagai persiapan, salah satunya dengan menggelar latihan arak-arakan menggunakan alat musik tradisional gandang tambua. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memeriahkan prosesi khatam Al-Qur’an yang sarat nilai religius dan budaya.Latihan gandang tambua tersebut dibimbing langsung oleh Muhammad Hadi Habib, yang dikenal berpengalaman dalam pelestarian seni musik tradisional Minangkabau. Dengan penuh kesabaran, beliau melatih para peserta—mulai dari anak-anak hingga remaja—agar mampu menampilkan irama yang kompak, tertib, dan selaras dengan suasana sakral acara.Arak-arakan khatam Al-Qur’an ini direncanakan akan melibatkan santri, pengurus musholla, serta masyarakat sekitar. Selain sebagai ungkapan rasa syukur atas selesainya pembelajaran Al-Qur’an, kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi dan menanamkan kecintaan generasi muda terhadap tradisi lokal.Pengurus Musholla Nurul Iman Musam berharap, dengan persiapan yang matang dan dukungan penuh masyarakat, pelaksanaan khatam Al-Qur’an dapat berjalan lancar, khidmat, dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta serta warga yang menyaksikan. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata sinergi antara nilai keislaman dan kearifan budaya daerah.

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!